Dokter bedah jantung di India bernama dr Gradlin Roy (39) tiba-tiba pingsan akibat serangan jantung saat menjalani pemeriksaan rutin di rumah sakit. Rekan-rekannya berusaha keras untuk menyelamatkannya, tapi dokter tersebut tak tertolong.
Dikutip dari Times of India, rekan-rekan dr Roy di Rumah Sakit Medis Saveetha di Chennai merasa terpukul. Ini juga menjadi 'alarm' bahwa penyakit jantung bisa menyerang siapa saja, bahkan pada mereka yang ahli di bidangnya.
Mengapa dokter bedah jantung yang lebih sering menangani kasus terkait penyakit kardiovaskular bisa mengalami serangan jantung?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ahli saraf yang belajar di CMC Vellore, dr Sudhir Kumar mengatakan di media sosialnya, bahwa beberapa tahun ke belakang terdapat banyak kasus tenaga kesehatan muda yang mengalami kondisi berat di awal usia 30 atau 40-an. Kondisi ini seringkali berujung pada serangan jantung mendadak.
"Ironisnya, mereka yang mendedikasikan hidup untuk menyelamatkan jantung orang lain seringkali mengabaikan jantung mereka sendiri," tulis dr Sudhir, dikutip detikcom dari akun X-nya, Minggu (31/8/2025).
Untuk diketahui, serangan jantung atau infark miokard (IM) disebabkan oleh penurunan atau penghentian total aliran darah di bagian miokardium. Saat ini, IM dapat bersifat 'diam' dan seringkali tidak terdeteksi hingga akhirnya terlambat.
Mengapa Dokter Lebih Rentan Kena Serangan Jantung?
Menurut dr Sudhir, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko serangan jantung di kalangan dokter.
"Jam kerja yang panjang dan tidak menentu, kurang tidur kronis, gangguan ritme sirkadian. Tingkat stres tinggi, kelelahan dalam mengambil keputusan, tekanan pasien atau keluarga yang terus-menerus, kekhawatiran medis-hukum," tulis dr Sudhir.
dr Sudhir juga menyoroti gaya hidup yang tidak banyak bergerak. Ini karena dokter bisa berdiri lama di ruang operasi atau duduk dalam waktu lama, dengan sedikit melakukan gerakan-gerakan aerobik.
Dokter juga rentan tidak menjaga pola makan yang sehat. Menurut dr Sudhir, mereka cenderung makan tidak teratur, hanya makan di kantin rumah sakit, dan sering mengonsumsi kafein.
"Mengabaikan perawatan pencegahan, banyak dokter menunda pemeriksaan kesehatan mereka sendiri dan mengabaikan tanda-tanda peringatan dini," tulis dr Sudhir.
"Beban psikologis, kelelahan, depresi, dan kelelahan emosional menambah risiko kardiovaskular. Meningkatnya angka penyalahgunaan rokok dan alkohol," sambungnya.
dr Sudhir mendorong untuk para dokter lebih rutin memeriksa kesehatan diri sendiri seperti pemeriksaan tahunan untuk tekanan darah, lipid, diabetes, EKG, dan tes stres bila diindikasikan.
Gaya hidup sehat, lanjut dr Sudhir juga penting dilakukan seperti jam tidur, nutrisi, manajemen stres, istirahat yang cukup, dan lebih 'mendengar' tubuh.
(dpy/kna)