Liputan6.com, Jakarta - Aktivitas Perkotaan di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), berjalan seiring dengan meningkatnya volume sampah. Kondisi ini menjadi salah satu persoalan utama dalam pengelolaan lingkungan.
Di balik rutinitas pengelolaan sampah, muncul tekanan lingkungan dan keterbatasan ruang kota. Kondisi ini mendorong lahirnya inovasi pengelolaan sampah organik berbasis lingkungan bernama ”tempah dedoro”.
Tempah dedoro tidak mengandalkan teknologi canggih, melainkan berangkat dari prinsip pengolahan sampah organik langsung di sumbernya. Tempah dedoro pertama kali diterapkan di Lingkungan Marong Jamak Karang Tatah, Mataram, sebelum diperluas ke puluhan kelurahan dan sekolah.
Berdasarkan laporan Antara, pada Senin (26/1/2026), penerapan metode tersebut berdampak pada penurunan volume sampah harian di tingkat lingkungan, dari sebelumnya sekitar 180 hingga 200 kilogram per hari menjadi sekitar separuhnya.
Secara keseluruhan, Kota Mataram menghasilkan sekitar 220 hingga 250 ton sampah per hari, dengan sekitar 60 persen di antaranya berupa sampah organik yang dapat diolah tanpa harus dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA).
Namun, capaian tersebut tidak berhenti pada besaran pengurangan sampah semata. Di baliknya muncul pertanyaan lebih mendasar, apakah tempah dedoro hanya berfungsi sebagai solusi teknis, atau menjadi bagian dari perubahan pendekatan dalam pengelolaan pelayanan publik dan tanggung jawab lingkungan.
Lubang Sederhana Pengurai Sampah
Tempah dedoro merupakan sarana pengolahan sampah organik berupa buis beton yang ditanam di tanah dan dilengkapi penutup. Wadah ini ditempatkan di rumah, gang, sekolah, atau kantor untuk mengolah sampah dapur secara alami.
Sampah organik dimasukkan ke dalam lubang dan disiram cairan pengurai atau air cucian beras. Dalam waktu enam hingga 12 bulan, sampah tersebut terurai menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan kembali.
Metode ini dinilai efisien karena biaya pembuatannya relatif murah berkisar ratusan ribu rupiah per unit dan satu unit dapat melayani tiga hingga empat kepala keluarga. Selain tidak memerlukan listrik atau peralatan khusus, tempah dedoro juga mendorong keterlibatan langsung warga dalam pengelolaan sampah.
Metode ini memungkinkan pengurangan signifikan volume sampah yang dibuang, dengan residu tersisa hanya sekitar 7,5 persen dari total sampah organik yang diolah.
Jika diterapkan secara luas di seluruh lingkungan kota, sistem persampahan berpotensi berubah dengan berkurangnya beban pengangkutan dan tekanan pada fasilitas pengolahan serta tempat pembuangan akhir. Namun, keberhasilan tersebut bergantung pada konsistensi perilaku masyarakat, dukungan edukasi, serta pendampingan berkelanjutan dari pemerintah.
Tantangan Perluasan Program
Keberhasilan penerapan tempah dedoro di lingkungan percontohan menghadapi tantangan ketika diterapkan pada skala kota. Wilayah perkotaan mencakup permukiman padat, gang sempit, rumah kontrakan, pusat usaha, sekolah, hingga dapur produksi makanan berskala besar seperti Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram mewajibkan penyediaan tempah dedoro bagi unit-unit tertentu sebagai bagian dari persyaratan operasional. Meski strategis, kebijakan ini berisiko menjadi formalitas tanpa pengawasan rutin.
Keberlanjutan program juga menjadi perhatian, terutama terkait perawatan dan pemanfaatan tempah dedoro dalam jangka panjang. Selain itu, keterbatasan ruang di sebagian kawasan menuntut pengelolaan kolektif di gang atau ruang publik agar penerapannya tetap adil dan efektif.
Di sisi lain, tempah dedoro membuka peluang ekonomi mikro melalui pemanfaatan kompos untuk pekarangan, pertanian perkotaan, dan kegiatan sekolah, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
Dari perspektif kebijakan publik, pendekatan berbasis lingkungan dan partisipasi warga dinilai lebih adaptif bagi kota menengah, sehingga perlu diintegrasikan dalam perencanaan kota dan program pendidikan agar berkelanjutan.
Menuju Kota Keberlanjutan
Pengelolaan sampah mencerminkan tata kelola kota dan keterlibatan warga. Melalui tempah dedoro, terlihat bahwa dengan dukungan dan kepercayaan pemerintah, masyarakat mampu berperan aktif menjaga lingkungan.
Upaya pengelolaan sampah tidak cukup hanya dengan memperluas jumlah tempah dedoro. Pemerintah perlu memastikan dukungan berkelanjutan melalui pelatihan, standar teknis, serta insentif dan pendekatan edukatif.
Pengelolaan sampah organik perlu berjalan seiring dengan pengelolaan sampah anorganik melalui Tempat Pengelolahan Sampah Terpadu (TPST) dan pusat pengolahan lainnya agar sistem persampahan kota terbangun secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.
Lebih jauh, tempah dedoro mengajarkan nilai tanggung jawab bersama dalam skala sehari-hari. Mengelola sampah dari rumah berarti mengurangi beban lingkungan, menjaga kualitas tanah dan air, serta menyiapkan kota yang lebih layak huni bagi generasi mendatang.
Di tengah tantangan pembangunan dan isu ketahanan lingkungan, tempah dedoro hadir sebagai praktik nyata kepedulian terhadap lingkungan yang dimulai dari ruang paling dekat dengan warga. Tantangannya kini bukan lagi pada efektivitas metode, melainkan pada konsistensi menjadikannya bagian dari budaya hidup bersih dan berkelanjutan.

1 week ago
10








:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4668152/original/077929400_1701261763-unnamed.jpg)





English (US) ·