Di banyak tempat, membangun rumah adalah urusan kontrak, semen, dan hitungan harian tukang. Namun, di wilayah pedesaan Kediri, rumah-rumah berdiri bukan karena kekuatan uang, melainkan karena kekuatan "panggilan". Inilah Soyo, sebuah kearifan lokal yang menjadi bukti bahwa di tanah Mataraman, persaudaraan masih jauh lebih mahal daripada nilai rupiah.
Bukan Kerja Bakti, Tapi "Tabungan Tenaga"
Soyo sering kali disalahpahami sebagai sekadar kerja bakti. Padahal, di balik adonan semen dan tumpukan batu bata, terdapat sistem "perbankan sosial" yang sangat rapi. Hal yang jarang diketahui adalah bahwa Soyo merupakan ekosistem tabungan tenaga yang mulia.
Saat seorang tetangga datang membantu memasang usuk kayu tanpa meminta imbalan satu rupiah pun, tindakan tersebut sebenarnya adalah investasi jangka panjang yang lebih berharga dari deposito mana pun.
Filosofi yang melatarinya adalah "Sopo nandur, bakal ngunduh" (Siapa yang menanam, akan memanen). Masyarakat Kediri sadar bahwa kehidupan adalah roda yang berputar; hari ini membantu, esok lusa akan dibantu.
Kesadaran akan kerentanan hidup inilah yang membuat Soyo tetap lestari. Warga melakukannya bukan karena instruksi perangkat desa atau tekanan birokrasi, melainkan karena naluri untuk menciptakan jaring pengaman bagi diri sendiri di masa depan.
Dalam sistem ini, yang ditabung bukanlah angka di buku rekening, melainkan kehadiran fisik dan cucuran keringat. Reputasi inilah yang akan menjamin bahwa saat rumah sendiri mulai lapuk atau ada hajat besar, tangan-tangan yang pernah dibantu akan datang secara otomatis.
Soyo adalah tamparan lembut bagi dunia yang makin transaksional. Di kota besar, tenaga kerja adalah komoditas yang bisa dibeli dan diputus kontraknya kapan saja. Namun dalam Soyo, tenaga adalah bentuk penghormatan.
Menghargai tetangga bukan dilakukan dengan memberi amplop di akhir hari, melainkan dengan memberikan waktu yang paling berharga untuk ikut berpeluh bersama. Hubungan yang terjalin bukan lagi antara majikan dan buruh, melainkan antara saudara yang sedang saling menopang pundak.
Diplomasi di Atas Piring dan Gelas Kopi
Hal yang paling menarik dari Soyo adalah "pelumas" konfliknya, yaitu jamuan makan. Dalam Soyo, tuan rumah memang dibebaskan dari beban upah tenaga kerja, namun sumber daya tersebut dialihkan untuk memuliakan tamu dengan jamuan terbaik. Perjamuan ini bukan sekadar urusan mengisi perut, melainkan ruang diplomasi paling jujur di tingkat akar rumput.
Ada filosofi "Paseduluran sak lawase" (Persaudaraan selamanya) yang tersaji di balik piring-piring makan yang dibagikan. Di atas tanah yang sedang dibangun, sekat-sekat sosial luruh seketika.
Di bawah naungan atap yang belum jadi, seorang pemilik sawah luas bisa saja hanya bertugas mengangkut pasir, sementara pemuda yang belum bekerja menjadi komando teknis di bagian konstruksi. Soyo menghancurkan kasta dan menggantinya dengan harmoni kerja yang sangat cair.
Di sela-sela kepul asap kopi hitam dan aroma nasi hangat, segala bentuk perselisihan kecil antar tetangga biasanya menguap begitu saja. Ruang makan darurat di lokasi Soyo menjadi pengadilan informal yang penuh tawa.
Keluh kesah tentang harga pupuk hingga cerita lucu di pasar mengalir deras, menciptakan rasa kedekatan yang mustahil ditemukan di ruang rapat. Jamuan ini adalah cara warga Kediri merayakan kehidupan di tengah kerja keras yang melelahkan.

1 week ago
6








:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4668152/original/077929400_1701261763-unnamed.jpg)





English (US) ·