Nama Pena, Kini Masih Dipakai

1 month ago 50
Pena hingga kini masih menjadi representasi simbolik di belakang kreativitas sastra. Ia diawetkan antara lain lewat penggunaan gabungan kata “nama pena”. Selain itu, masih “buah pena”. (Sumber: Gemini AI)

Sedikit mencengangkan juga. “Nama pena” ternyata tidak tercantum sebagai sublema kategori gabungan kata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan (KBBI VI Daring). Dari lema “nama” muncul sublema yang memiliki panduan makna hampir searah, seperti “nama pedengan” yang bersinonim dengan “nama samaran”, yaitu nama yang menggantikan nama sebenarnya. Tentang nama sebenarnya, di situ terdapat sublema “nama daging” atau “nama tubuh”, yaitu nama pemberian orang tua sejak lahir.

Ada yang masih memiliki arah makna yang sama dengan “nama pena”, yaitu “nama panggung”, nama pilihan aktor atau aktris yang mereka gunakan saat tampil sebagai pemeran dalam seni pertunjukan teater baik tradisional maupun modern. Bisa jadi, karena jenis seni yang menjadi tempat berkiprah adalah panggung, bisa dalam makna panggung yang sebenarnya. Atau, bisa juga makna panggung sebagai kiasan dari pengejawantahan dari pengedepanan kemampuan memainkan seni berperan atau akting. Dan, di dunia sastra, simbol yang paling representatif adalah pena. Meskipun kini, orang lebih lazim menulis dengan laptop atau cukup smartphone.

Gabungan kata yang hadir dengan didahului kata “nama” lainnya, yaitu “nama alternatif” (dua nama untuk takson dan tingkat yang sama diterbitkan serentak oleh pengarang nama); “nama berterima” (nama ilmiah untuk marga suatu takson); “nama botani” (nama ilmiah tumbuhan); “nama cumbu” atau “nama timangan” (panggilan kesayangan); “nama daerah” (pemberian nama flora dan fauna dari penduduk tempat asal); “nama sistematik” (nama yang berdasarkan pada struktur sistematik suatu senyawa dalam Kimia).

Kemudian ada lagi “nama dagang” atau “nama produk” (tanda barang produksi suatu pabrik dalam dunia perdagangan); “nama diri” (penyebutan diri orang, benda, tempat); “nama domain” (nama untuk mengakses jaringan server di internet); “nama ejekan” (nama untuk mengejek orang); “nama generik” (nama kelas atau kumpulan benda serupa dalam Kimia); “nama ilmiah” atau “nama Latin” atau “nama teknik” (nama untuk tiap takson flora dan fauna yang berlaku universal dalam Biologi); “nama induk” (bagian nama khas dalam Kimia, misalnya etana nama induk etanol).

Selanjutnya, “nama jenis” (nama jenis umum benda atau konsep); “nama julukan” (nama yang ditambahkan atau dipakai sebagai pengganti nama asli, terkait dengan ciri tubuh atau watak khasnya); “nama kapal” (nama kapal niaga yang terdaftar, terpajang di kedua sisi); “nama kecil” (nama saat masih kecil); “nama lengkap” atau “nama terang” (nama identitas selengkapnya); “nama panggilan” (nama untuk sapaan); “nama sah” (nama atau penunjuk yang penerbitannya berlaku)

Selebihnya, ada “nama panggilan radio” (nama terdiri atas empat huruf dari isyarat internasional, diberikan kepada setiap kapal yang terdaftar oleh pemerintah atau negara pemilik kapal itu, sebagai isyarat radio untuk keperluan komunikasi); “nama pengarang” (nama orang yang memberikan dan menerbitkan nama ilmiah, penulisannya di belakang nama ilmiah yang bersangkutan, dalam Biologi); “nama rupabumi” (nama untuk unsur rupabumi); “nama trivial” (nama umum suatu senyawa yang tidak menggambarkan komposisi kimianya).

Dari penjelajahan di atas jelaslah, bahwa sublema kategori gabungan kata “nama pena” memang tidak termaktub di dalam KBBI VI Daring. Saya coba mencari di lema “pena”. Yang ada di jajaran sublema kategori gabungan kata, yaitu “pena bola” (bolpoin); “pena cahaya grafis” (istilah komputer berupa alat berbentuk pena yang mengeluarkan cahaya ketika mengarah ke layar penampil grafis yang memiliki fungsi sama dengan tetikus); “pena penanda” (pena warna berujung serong yang terdiri atas berbagai ukuran). Sama sekali tidak ada “nama pena”.

Ilustrasi sebuah proses pembelajaran di kelas yang membahas nama pena salah satu khazanah Sastra Hiindia Belanda. (Sumber: Gemini AI)

Cukup menarik juga KBBI VI Daring lebih membakukan “nama samaran” dan “pseudonim” (penyerapan dari kata bahasa Inggris, pseudonym). Padahal dalam kehidupan sehari-hari “nama pena” begitu nyata hadir pada aktivitas berbahasa sehari-hari. Di kamus daring tersebut, juga ada sublema kategori gabungan kata “buah pena” sebagai padanan dari “buah kalam” atau “buah karya”.

Walaupun “nama pena” (pen name) sudah hadir jauh sebelumnya, ia pernah tampil sezaman dengan “sahabat pena” di masa lalu. Biasanya bermula adanya rubrik di media massa cetak, entah majalah entah koran (biasanya di edisi Minggu yang memiliki rubrik untuk remaja). Ada pemuatan foto-foto diri (kebanyakan berupa pasfoto), dengan informasi nama, tempat/tanggal lahir, sekolah, alamat, hobi, cita-cita, dan kata-kata inspiratif. Dari sinilah pertemanan via surat kemudian dapat terjalin.

Tentu saja, kini sahabat pena sudah menjadi bagian dari masa lalu. Sudah tidak ada lagi, anak-anak remaja sekarang melakukan kegiatan menulis ataupun membalas surat dalam wujud aktivitas yang melibatkan kertas dan pena. Bersurat lewat jasa Kantor Pos. Kini sudah ada WhatsApp yang lebih praktis. Lagi pula, dahulu pun saat menulis bukan lagi dengan “pena” (alat menulis dengan tinta, apalagi yang dicelupkan ke botol tinta), melainkan “bolpoin” (alat menulis bermata bulat/tumpul dengan tinta kental dalam tabung kecil). Kalaupun masih terkait dengan pena, yaitu karena “bolpoin” adalah sinonim dari “pena bola”. Namun setahu saya, “pena bola” tidak pernah bisa menandingi popularitas “bolpoin” dalam kehidupan berbahasa sehari-hari.